Langsung ke konten utama

“ISLAM, MANUSIA DAN ALAM SEMESTA

ISLAM, MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Oleh :
Akhmad Miswar

1. Konsep ketuhanan yang Maha Esa
    Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya ,hingga kemudian muncul pertanyaan manusia terkait siapakah itu tuhan, dalam islam diajarkan Perkataan Ilah, yang diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS AlJatsiiyah [45] : 23, yaitu: 
    “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
    Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” Dalam QS Al-Qashash [28]:38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri: “Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta"
    Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna:ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut: Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya (Allah). 
    Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut: Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang- orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau anganangan (utopia) mereka.
    Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.

2. Konsep Manusia dalam Perspektif Islam
    Istilah manusia dalam al-Quran disebutkan dengan menggunakan tiga kata, yaitu insan, ins, dan basyar. Ketika menggunakan kata basyar, yang dimaksudkan al-Quran adalah anak turun Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Dimensi fisikal itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak keturunan Adam secara keseluruhan. Kata basyar untuk menunjukkan sisi-sisi kemanusiaan para Rasul dan Nabi. Artinya, para Rasul dan Nabi tersebut adalah manusia biasa seperti halnya manusia-manusia lain. Mereka bukanlah mahluk yang diciptakan dengan unsur yang berbeda dengan manusia biasa. Mereka juga membutuhkan makan dan minum seperti yang lainnya. Kemudian kata ins dan insân, dapat disimpulkan sebagai bentuk kata yang musytarak atau memiliki sisi kesamaan makna. Risalah makna yang dikandungnya adalah kebalikan kata “liar”, yaitu “jinak”. Kedua kata tersebut, ins dan insân, meskipun memiliki makna yang musytarak, juga memiliki perbedaan makna. Kata ins, selalu disebutkan bersamaan dengan kata jin sebagai oposannya,
    Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Quran dengan kata ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik. Metafisik itu identik dengan “liar” atau “bebas” karena tidak mengenal ruang dan waktu. Dengan sifat kemanusiaan itu, jelas sekali bahwa manusia berbeda dengan jenis-jenis mahluk lain yang metafisik, asing, tidak berkembang biak seperti kita dan tidak hidup dengan cara hidup kita.
    Sedangkan makna manusia yang diungkapkan al-Quran dengan menggunakan kata insân, tidak terletak pada dimensi yang selalu dioposisikan dengan jin. Risalah makna yang terkandung di dalam penggunaan kata insân tersebut adalah ketinggian derajat manusia sehingga menjadikannya layak untuk dijadikan khalifah dan mampu mengemban tugas-tugas keagamaan dan memikul amanat. Maka dari itu, ia dianugerahi dengan kelebihan-kelebihan yang tidak diberikan kepada mahluk selain dirinya. Di antara kelebihan-kelebihan tersebut adalah diberi ilmu pengetahuan, dapat berbicara, dianugerahi akal dan kemampuan untuk berpikir .
    Mengutip pandangan Hamka, hanya manusia semata makhluk yang dianugerahi akal. Dengannya, manusia dapat mencari hal yang bermanfaat dan menghindari hal yang mudharat. Dengannya pula, ia menginginkan keuntungan dan takut akan rugi. Selain itu, manusia juga dianugerahi dengan perasaan. Dalam perasaan yang paling murni, dia mengakui adanya kekuasaan yang lebih tinggi yang mengatur alam ini. Tidak berhenti sampai di situ, perasaan itu pun sebenarnya selalu berusaha untuk mengenal hakikat kekuatan tersebut. Dalam pandangan Hamka, corak jiwa dan akal yang senantiasa ingin mengetahui hakikat Zat Yang Maha Kuasa itu dinamakan dengan fitrah.
    Semua kelebihan itu telah dirancang oleh Allah swt. dengan sangat teliti. Sehingga dengan kemampuannya, dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang indah dan mana yang jelek. Maka dari itu, dengan berbagai kelebihan tersebut, manusia tidak akan tergelincir ke dalam hal-hal yang tidak baik jika dia mampu dan mau mengoptimalkan potensi yang dianugerahkan kepadanya. Oleh sebab itulah, di dalam salah satu ayatnya, Allah swt. berfirman. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Al-Ra’d 13 :11)

3. Konsep Alam Semesta dalam Perspektif Islam
    Kata alam, yang dimaksudkan di sini adalah alam semesta, jagad raya yang di dalam bahasa Inggris disebut dengan universe. Kata ini dialihbahasakan ke dalam bahasa arab dengan istilah alam. Akan tetapi, penggunaan kata ‘âlam ini di dalam al-Quran untuk menunjukkan jagad raya atau alam semesta tidaklah tepat. Karena kata ‘âlam yang digunakan di dalam al-Quran merujuk pada kumpulan yang sejenis dari mahluk Tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati mahluk yang berakal. Hal itu dapat ditelusuri dari ayat-ayat al-Quran yang menggunakan kata tersebut.
    Untuk merujuk kepada alam semesta atau jagad raya, al-Quran justru selalu menggunakan kata al-samawat wa al-ardh wa mâ bainahuma. Kata ini mengandung isyarat bahwa di dalamnya mencakup banyak alam, yang berbeda bentuk dan hukum-hukumnya antara satu dan yang lain. Dalam konsep penciptaan alam semesta, al-Quran menggunakan istilah atau terma yang berbeda-beda, antara lain dengan kata khalaqa, bada’a dan fathara. Hanya saja, ketiga ungkapan tersebut tidak memberikan penjelasan yang tegas apakah alam raya ini diciptakan dari materi yang sudah ada atau dari ketiadaan. Jadi ketiganya hanya menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan alam semesta tanpa menyebutkan dari ada atau tiadanya (Zar, 1997). Al-Quran juga menyebutkan terma al-dukhân yang digunakan untuk menerangkan asal muasal kejadian alam ini. Namun karena tidak ada penjelasan rinci tentang arti al-dukhân ini, para cendekiawan pun mencoba menafsirkan terma ini dalam perspektif mereka masing-masing. Bucaille mengartikannya sebagai asap yang terdiri dari stratum gas dengan bagian-bagian kecil yang mungkin memasuki tahapan keadaan keras atau cair dalam suhu rendah atau tinggi. 
    sederhana al-Quran menyatakan bahwa alam semesta dan apa pun yang dikehendaki Allah akan terwujud dengan perintah-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah yang menjadi penggerak absolut untuk alam raya dan pemberi perintah yang tak terbantahkan. Artinya, alam raya ini tunduk kepada Allah secara otomatis, tidak ada potensi untuk memilih antara patuh atau tidak. Secara ontologis, ini berbeda dari manusia yang diberikan potensi dan kebebasan untuk memilih antara patuh atau ingkar. Maka dari itu, secara holistik kelak di hari pembalasan, yang dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala tindakan hanya manusia, alam raya tidak dituntut sama sekali karena sifatnya yang reseptif dan pasif
    Allah swt. menciptakan alam semesta selama enam hari. Ayat-ayat al-Quran yang mengisyaratkan kepada kita mengenai keterangan tersebut adalah surat alA’raf [7] : 54, Yunus [10] : 3, Hud [11] : 7, al-Furqân [25] : 59, al-Sajdah [32] : 4, Qaf [50] : 38, al-Hadid [58] : 4. Akan tetapi, di dalam ayat-ayat yang menerangkan itu tidak disebutkan secara detail apakah enam hari penciptaan itu adalah enam hari dalam hitungan manusia (satu minggu) ataukah enam hari dalam hitungan Allah swt (yang mana sehari bagi Allah sama dengan seribu tahun dalam hitungan manusia). 

4. Relasi Antara Manusia dan Alam Semesta
    Sebagai mahluk yang paling mulia dan paling sempurna dengan dibekali akal pikiran dan perasaan, manusia dijadikan oleh Allah sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi (alam) ini. Makna khalifah ini bukan berarti untuk merusak dan menumpahkan darah, sebagaimana klaim malaikat, tetapi untuk membangun peradaban yang damai, sejahtera dan berkeadilan.
    Allah swt. mengetahui potensi yang dimiliki manusia sehingga lebih mengutamakannya dari malaikat yang notabene adalah mahluk Allah yang selalu melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa pun yang dilarang-Nya. Mereka tidak pernah membantah Allah sama sekali. Dan ketika Allah menginformasikan kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, mereka bertanya-tanya kepada Allah. Hal ini digambarkan dengan jelas di dalam firman-Nya.
    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al-Baqarah [2] : 30).
    Dari ayat di atas, dapat diketahui dengan jelas bahwa kekhawatiran para malaikat sudah dijawab oleh Allah swt. Dia lebih mengetahui potensi yang ada di dalam diri manusia, maka dari itu memercayakan bumi ini kepadanya, bukan yang lain. menyebutkan bahwa keberatan malaikat itu dijawab dengan sebuah kompetisi epistemologis yang Dia ajukan kepada keduanya. Dia meminta malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda dan menjelaskan karakteristiknya. Malaikat ternyata tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu, sedangkan Adam bisa menjawabnya. Sejak saat itu, malaikat pun diperintahkan untuk menghormati manusia karena keunggulan tersebut. Oleh karena Allah swt. telah mengetahui potensi yang ada di dalam manusia, maka Dia memberi amanat kepadanya agar mengemban dan melaksanakan semua tugas-tugas keagamaan dan tugas-tugas kemanusiaan.
    “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
    Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS Al-Ahzab [33] : 72). Amanat yang dimaksudkan di dalam ayat di atas memiliki makna yang luas, tidak hanya terbatas pada praktik-praktik individual keberagamaan, tetapi juga praktik-praktik sosial kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya juga tugas untuk menjaga alam dan melestarikannya sehingga menjadi hunian yang nyaman dan indah.

5. Realitas halifah (manusia) terhadap alam Semesta
    Manusia bertanggung jawab terhadap keberlanjutan ekosistem karena manusia diciptakan sebagai khalifah Dalam konteks Al-Quran memandang manusia sebagai “wakil” atau “khalifah” Allah di bumi, untuk memfungsikan kekhalifahannya Tuhan telah melengkapi manusia potensi intelektual dan spiritual sekaligus. Sesuai dengan UU RI Nomor 23 Tahun 1997 yang menyatakan pengertian lingkungan hidup itu sendiri yang didalamnya telah melibatkan peranan manusia dan perilakunya dalam menyejahterakan makhluk hidup dan dirinya. Karena secara etika manusia berkewajiban dan bertanggung jawab terbesar terhadap lingkungan dibandingkan dengan makhluk lainnya.
    Allah menganugrahi akal kepada manusia, dan dengan akal itulah Allah menurunkan agama. agama sebagai petunjuk dan pedoman dalam kehidupan, merupakan dasar untuk mengatur bagaimana berhubungan dengan sang pencipta dan hubungan dengan alam semesta. Manusia dalam agama merupakan bagian dari lingkungan hidupnya, sehingga manusia ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini. Seperti dalam firman Allah, yaitu:
    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:    
     “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al- Baqarah [2] : 30). Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan hukumhukum syariah. Khalifah adalah wakil umat dalam kehidupan di muka bumi. Seperti dalam firman Allah SWT: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: 
     “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al- Baqarah [2] : 30). Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan hukumhukum syariah. Khalifah adalah wakil umat dalam kehidupan di muka bumi. Seperti dalam firman Allah SWT:
Allah telah berjanjian kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orangorang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan menukar (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadikan aman sentosa, mereka tetap menyebahKu tanpa mempersekutukan apapun dengan Aku. Siapapun yang sudah kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (Q.S. An-Nur [24]: 55). 
    Khalifah adalah sebutan yang diberikan kepada pemagang kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan islam, muncul pertama kali di Tsaqifah (Rumah) Bani Sa’idah yang merupakan suku di Madinah, berdasarkan prinsip pemilihan khalifah dari suku Quraisy (Usmani, 2016). Makna khalifah dalam islam sebagai satusatunya pemimpin di seluruh penjuru dunia, sehingga khalifah menjadi pemimpin seluruh umat islam dari segala penjuru dunia.
Interaksi antara manusia dengan sumber-sumber alam harus berlangsung berdasarkan kaidah-kaidah yang diatur oleh Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan Allah mengamanahkan bumi kepada manusia untuk menyikapi ketentuan dan hukum- hukumnya. Hubungan agama islam dan konsep ekologis islam menurut Nasr bahwa krisis yang dialami manusia, salah satunya yaitu krisis lingkungan yang terjadi akibat dari ulah manusia modern yang cenderung meninggalkan dimensi spiritualitasnya. Dengan semakin canggihnya teknologi menjadikan manusia modern mudah megeksploitasi alam tanpa menggunakan unsur spiritualnya. Pandangan spiritualitas menurut Nasr merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia demi keberlangsungan bumi dan isinya. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang lebih dahsyat bukanlah disebabkan oleh proses alam yang semakin tua, akan tetapi justru akibat dari ulah tangan-tangan manusia yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering kali mengeksploitasi tanpa mempedulikan kerusakankerusakan lingkungan yang ditimbulkannya.
    Hasil riset pada masyarakat kontemporer yang antara lain dilakukan oleh Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) serta puluhan badan riset dalam kelompok G-8 (Negaranegara maju) dan G-20 (Negara ekonomi besar berjumlah 20) menyimpulkan bahwa peningkatan suhu permukaan bumi, kerusakan lingkungan hidup serta terkurasnya sumber daya alam disebabkan oleh aktivitas manusia sepanjang sejarah, sehingga dalam skala global, eksplotasi sumber daya alam yang semakin intensif di berbagai kawasan dunia dilakukan oleh masyarakat industri yang nampaknya tidak memiliki kompetensi dan kecerdasan ekologis.
    Kerusakan sumber daya alam (tanah, air dan udara), terjadinya deforestasi dan degradasi hutan bahkan kebakan hutan yang sering terjadi yang mengakibatkan menipisnya dan musnahnya hayati, hingga terjadinya permukaan air laut naik dan tenggelamnya beberapa pula, serta merebaknya berbagai jenis penyakit merupakan berbagai bentuk masalah akibat terjadinya krisis lingkungan, sehingga menuntut adanya solusi segera dalammenanggulangi hal tersebut, hal-hal demikian terjadi akibat perilaku eksploitasi dan konsumtif manusia yang berlebihan (serakah)dengan menganggungkan paradigma antroposentrisme. Pandangan antroposentrisme yaitu anggapan bahwa manusia bukan merupakan dari alam, melainkan manusia adalah hasil cipta Tuhan, yang diciptakan untuk mengatur dan menaklukkan alam. Dengan pandangan tersebut menimbulkan dualisme antara manusia berada di satu pihak dan alam berada dipihak lain, oleh sebab itu, terjadinya eksploitasi manusia terhadap alam dalam pandangan antroposentrisme merupakan perwujudan kehendak Tuhan, karena manusia diciptakan untuk menguasai dan menaklukkan alam
    Di era modern ini peniadaan hal-hal yang bersifat sakral (tardisi) menjadikan penyebab terjadinya krisis ekologi, hal ini sejalan dengan pendapat Nasr (dalam Syakur, 2008) bahwa peniadaan hal-hal yang bersifat sakral dalam era modern ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya krisis ekologi dan proses dehumanisasi yang menyertainya seperti yang diderita saat ini. Bahkan akar-akar budaya modernitas yang dianggap sebagai penyebab terserabutnya pandangan tradisional religius terhadap alam semesta, yakni alam sebagai tanda-tanda kebesaran sang pencipta. Krisis ekologi yang terjadi di muka bumi menjadikan diskusi-diskusi dalam bidang sains dan agama terasa mendesak, jika setiap manusia dari berbagai perspektif yang berbeda tidak dapat menyepakati keprihatinan bersama akan dunia, maka sistem kehidupan di muka bumi terancam bahaya kehancuran akibat ulah daripada manusia.

6. Islam Yang Ideal Dalam Pengelolaan Alam Semesta; Sebuah Gagasan
    Manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan. Manusia adalah mahluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, kematian, serta terkait berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik baik itu positif maupun negatif. Lingkungan hidup yang telah tersedia diciptakan untuk kepentingan hidup manusia
    Manusia mempunyai kelebihan dari makhluk lain, yaitu akal dan budi. Dengan inilah manusia mempunyai kedudukan istimewa dalam lingkungannya. Dengan akal dan fikirannya, manusia banyak bertindak sehingga kebutuhan manusia lebih diutamakan dari kepentingan yang lain. Setiap lingkungan hidup Ketika menelaah alam menggunakan akal dan fikiran, seharusnya muncul kesadaran dalam hati bahwa penciptaan dan keteraturan alam semesta ini merupakan karya Allah. Setelah meyakini adanya Rabb, manusia meyakini kekuasaan Allah sebagai Malik yang menguasai dan mengatur hidup manusia. Maka tugas manusia adalah bagaimana cara untuk menjaga kelestarian alam yang telah Allah ciptakan untuk manusia dan makhluk hidup yang lain untuk dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya.
    Suatu lingkungan yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang islami adalah lingkungan yang menekankan kesehatan dan kebersihan umum, di mana berbagai langkah dan ketentuan diambil untuk memastikan, misalnya, bahwa air tidak terpolusi dan terdapat cukup fasilitas untuk pembuangan air. Lingkungan yang islami juga harus barsih dari segi moral dan ekonomi. Sektor ekonomi tidak mengenal toko-toko minuman keras, rumah-rumah minum atau pub dan akan menjadi wilayah yang benar-benar kering. Tidak diperbolehkan memakai atau memperdagangkan obat-obat terlarang, tidak boleh ada rumah- rumah perjudian atau ruangan yang remang-remang sebagai tempat usaha atau praktek-praktek lain yang bertentangan dengan syariat. Inilah lingkungan yang terpelihara dari moralitas dan taat pada aturan agama.
    Setiap manusia, dipundaknya terpikul tanggung jawab yang besar dalam hubungannya dengan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam tersebut, antara lain dapat diwujudkan dengan contoh sikap dan perilaku sebagai berikut : 
•Memelihara kebersihan lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Sampah dikelola dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu (Reduce, Reuse, Recycle dan Replace). Dalam keseharian, dan dapat dilakukan oleh siapa saja untuk mengurangi volume sampah.
•Tidak mengekspolitasi alam secara berlebihan, mengingat keterbatasan sumber daya alam yang ada. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa memperhatikan aspek peran dan fungsi alam ini terhadap lingkungan dapat mendatangkan berbagai macam bencana alam seperti tanah longsor, banjir, kabut asap, pemanasan global yang sangat merugikan masyarakat.
• Pemanfaatan teknologi harus mempertimbangkan lingkungan hidup di mana kita tinggal agar teknologi tersebut justru tidak merusak alam lingkungan kita.
•Menjaga kelestarian lingkungan dengan cara meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber energi yang tidak akan habis sebagai pengganti minyak bumi atau batu bara, misalnya penggunaan energi sinar matahari, angin, geothermal, tenaga air, pasang air laut, dan sebagainya.

Komentar