Langsung ke konten utama

KONSTRUK SOSIAL PEREMPUAN ATAS PERAWAN

 

 KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN


OLEH : NISFAH NURJANNAH

Bangsa Indonesia saat ini yang berada dalam era globalisasi yang terburuburu untuk mencapai sebuah kemajuan, bangsa Indonesia membutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini. Globalisasi mempercepat penambahan pengetahuan dan peningkatan teknologi, tetapi disisi lain globalisasi akan mudah sekali menjadi masalah di tengah masyarakat Indonesia. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi di Indonesia membawa bangsa ini mengalami pergeseran dalam cara berpikir dan pola kehidupan bermasyarakat. Dalam perubahan sosial yang terjadi ini adalah sebagai konsekuensi dari mozaikmozaik kecil yang dinamakan modernisasi. Fenomena yang sering kali ditayangkan dan disorot saat ini karna faktor kegelisahan atau kebodohan adalah maraknya penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian individu, khususnya dikalangan mahasiswa, salah satunya adalah pergaulan bebas. Mahasiswa dalam menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis yang biasa disebut dengan pacaran yang lazimnya terjebak dalam keinginan untuk melakukan hubungan seksual yang dapat dianalisis dengan konstruksi sosial.

Konstruksi sosial pada adat timur dalam hal ini Makassar, masih menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma murni yang kental dalam budaya dan agama, khususnya dalam hubungan antara manusia, individu maupun masyarakat. Namun perkembangan zaman secara global membawa perubahan yang ekstrim, terutamanya dalam  hal norma dan moralitas. Manusia sebagai makhluk sosial dan berusaha untuk eksis dalam lingkungan sosialnya, khususnya kalangan mahasiswa yang berfungsi sebagai Agent of change, Social of control dan Moral of force. Dalam upaya eksistensi diri tersebut, terjadi konflik antara keharusan untuk eksis secara sosial dengan mengesampingkan nilai-nilai moral dasar yang dianut masyarakat dan upaya mempertahankan nilai-nilai moral tersebut sembari tetap eksis dalam komunitasnya. Nilai moral yang menjadi titik sentral di sini adalah keperawanan yang mana dianggap sakral dan berharga, menunjukkan harga diri seorang wanita. Inilah yang merupakan fokus utama dari Penelitian ini ketika keperawanan dipertanyakan. Perempuan yang belum menikah harus mempertahankan keperawanannya (Virginitas) sampai pernikahan dilangsungkan, karena keperawanan adalah lambang kehormatan dan kesucian seorang perempuan yang diukur dengan pakem baik.

Persoalan keperawanan masih sangat penting, terkait dengan kesucian dan keindahan hidup pasangan suami/istri. Ironisnya dikalangan pemuda-pemudi yang katanya pilar utama masa depan bangsa yaitu mahasiswa, keperawanan bukan lagi menjadi bagian sakral yang harus dipertahankan hingga menjadi pasangan suami/isri yang sah melainkan hanyalah bagian dari gaya hidup. Untuk disebut sebagai anak gaul atau nge-trend maka seseorang harus pernah melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Kata perawan justru identik dengan kata kuno, primitif, konvensional, kolot, tradisional, fanatik suatu agama dan munafik. Christina Siwi Handayani (2004), beberapa hasil penelitian mendukung pernyataan ini.

Hasil survei di kota Yogyakarta pada tahun 2002 yang meskipun banyak menimbulkan pro/kontra mengenai metodologinya tetap saja menjadi data yang sangat mengejutkan karena mengungkapkan bahwa 97,05% mahasiswi yang menjadi responden mengaku telah kehilangan keperawanannya selama melakukan studi (kuliah). Masih di tahun yang sama, penelitian di Surabaya menyebutkan 40% mahasiswa pria dari 180 mahasiswa perguruan tinggi negeri di Surabaya telah melakukan hubungan seks pranikah. Kemudian survei tahun 2005-2006 di seputar Jabodeabek, Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar mengungkapkan bahwa 47,54% remaja mengaku sudah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Pada tahun 2008 survei dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dan hasilnya mengungkapkan ada 63% remaja mengaku sudah mengalami seks sebelum nikah. “Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) “.

Berdasarkan hal inilah yang menyebakan penulis tertarik untuk melakukan penulissan essay  terhadap “Konstruksi Sosial Perempuan Atas Keperawanan” yang bagi Penulis, itu adalah sesuatu yang bisa menjadi titik sentral atas terjadinya fakta- fakta tersebut. Berawal dari sebuah penalaran dan berangkat dari sebuah pengamatan. Tulisan ini berupaya menguraikan bagaimana pemahaman Kader Kohati yang mengikut kegiatan LKK ini pada khususnya, dan seluruh Kohati pada umumnya  mengenai keperawanan dan seperti apa nilai sebuah keperawanan itu. Untuk mencapai sebuah penulisan yang lebih terarah dan sistematis, maka fokus perhatian peneliti akan dibatasi pada beberapa masalah pokok sebagai berikut :

1.       Seberapa penting nilai guna keperawanan bagi perempuan?

2.       Apakah penyebab hilang atau bertahannya nilai keperawanan dikalangan kaum perempuan? 

            A. Pengertian Perawan

Dari dulu hingga saat ini, keperawanan menunjukkan harga dan martabat kaum perempuan. Keinginan dan usaha para perempuan untuk menjaga diri atau kehormatan, itulah hakikat kesucian. Sebab dengan kecanggihan teknologi di bidang Kedokteran, selaput dara yang sudah sobek pun bisa dijahit lagi seperti semula. Meskipun hal itu masih pro-kontra kebolehannya, tapi yang pasti teknologi bedah memungkinkan hal itu terjadi. Berbicara mengenai keperawanan, atau virginitas. Virgin dalam bahasa Inggris bisa berarti perawan atau perjaka.

Dalam kamus Oxford, virgin: (noun) person, esp. A girl or woman, who has not had sexual intercourse; (adj) pure and untouched. Intinya virgin itu perawan, belum pernah disentuh atau dijamah. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Perawan artinya kesucian seorang gadis. Menurut ahli kesehatan, perempuan dikatakan virgin (perawan), jika alat kelaminnya yang terdiri dari selaput dara (hymen) belum robek lapisannya. Selaput dara ini adalah bagian yang ada pada organ reproduksi perempuan yang mempunyai fungsi sosial jauh lebih tinggi daripada fungsi anatomis.

B. Perawan dalam aspek medis

Perawan juga menyangkut kesehatan reproduksi. Perempuan yang tidak menjaga keperawanannya, tidak ada jaminan apakah sehat organ-organ reproduksinya. Berbagai penyakit bisa menyerang para aktivis seks bebas dan berakibat mengganggu proses reproduksi. Bahkan bisa menimbulkan kemandulan. Masing-masing pihak tidak sehat organ reproduksinya sehingga menghalangi terjadinya kelahiran generasi-generasi penerus. Ataupun jika dipaksakan akan lahir generasi penerus yang penyakitan atau cacat mental akibat dampak dari tertularnya infeksi menular seksual (IMS). Dalam jangka panjang, rusaknya organ reproduksi ini akan mengganggu hubungan seksual. Seperti hilangnya kenikmatan dan bahkan terjadi disfungsi seksual. Namun dalam dunia medis telah ditemukan cara membuat tipuan semu tentang keperawanan seorang perempuan, melalui operasi medis terhadap selaput dara ataupun bagian tertentu dari organ vital wanita. Hymenoplasty istilah untuk bedah reparasi selaput dara. Hymenoplasty dilakukan ubtuk mereparasi selaput dara (hymen) dengan mengikat kembali selaput dara yang sudak koyak. Ada juga melakukan bedah plastic (vaginoplasty), dengan tujuan agar vagina lebih kencang dari sebelumnya. (Supatmiati, 2007: 125).

C. Resiko Hilangnya Perawan

Berikut adalah beberapa kemungkinan yang ditimbulkan seseorang yang kehilangan Keperawanan, yang dikutip dalam buku Kesucian Wanita karya Abu Al-Ghifari :

1.      Resiko psikologis

Secara psikis, perempuan yang telah kehilangan keperawanannya akan hilang rasa percaya diri, minder, malu, merasa dirinya kotor karena sudah ternodai tubuhnya, merasa bersalah, penyesalan dan kecemasan akan masa depan. Dan adanya kekhawatiran tidak akan mendapatkan jodoh karena sudah tidak suci lagi. Bahkan untuk memulai hubungan dengan laki-laki lagi, perempuan seperti ini bakal berpikir seribu kali karena ketakutannya akan penolakan.

2.      Resiko sosial

Hilangnya rasa percaya diri, munculnya rasa minder dan malu karena sudah tidak perawan lagi, menyebabkan perempuan ini akhirnya menarik diri dari lingkungan. Menjadi malas bergaul, khawatir rahasianya terbongkar, takut jadi bahan pembicaraan teman-teman. Tidak sedikit perempuan yang sengaja mencari uang atau bahkan demi kenikmatan semata saat melepas Keperawanannya, akhirnya terjerumus ke lembah nista. Jelas makin rusaklah pergaulan sosialnya. Jika sampai hamil. Secara sosial, jelas sangat berdampak pada hubungan dengan lingkungan. Meskipun masyarakat tidak menggunjingkan secara terang-terangan, perasaan bahwa dirinya pembawa aib bagi keluarga dan lingkungan akan membuat diri tertekan dan depresi dan akan cenderung mengasingkan diri dari lingkungan.

            D. Peran Perawan

Salah satu tanda kekuasaan Allah swt. adalah terciptanya keperawanan atau selaput darah pada setiap wanita. Betapa tidak, nilai keperawanan teramat agung bahkan semenjak dulu diakui sebagai simbol perbedaan wanita baik dan wanita buruk. Keperawanan itu juga bisa dijadikan tolak ukur untuk wanita itu sendiri dalam menilai diri sendiri. Keperawanan bisa berarti kejujuran, kesucian, dan keutuhan moral seorang wanita. Perawan sebuah kata yang berkonotasi positif dan secara umum berarti suci, sehingga seorang Perempuan yang bisa menjaga keperawanannya acapkali disebut sebagai Perempuan yang bisa menjaga kesuciannya. Karena itu tidaklah heran jika seseorang pria menginginkan calon istrinya adalah Perempuan yang masih perawan.

        E. Penyebab hilang atau bertahannya nilai keperawanan dikalangan Mahasiswa.

1.    Rasa ingin tahu

Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar, berbagai jenis pertanyaan dalam benak manusia yang ingin terpuaskan dengan jawaban seperti apa?, kenapa?, mengapa?, bagaimana?, dimana?, siapa?, dan banyak lagi bentuk pertanyaan-pertanyaan. Rasa ingin tahu yang besar ini tentang apa yang terjadi diluar sana yang membuat para mahasiswi-mahasiswi ini ingin mencoba dan merasakan seperti apa jika berada di tempat-tempang yang menjanjikan kesenangan, kebebasan dan hiburan untuk mereka. 

Rasa ingin tahu tersebut membuat penasaran sehingga memaksa individu secara tidak sadar untuk mencoba.Apalagi faktor lingkungan yang cukup mendukung membuat semuanya tampak memungkinkan untuk dilakukan. Pada dasarnya bukan persoalan ketidaktahuan yang membuat seseorang berbuat atau bertindak mengenai sesuatu hal melainkan sebenarnya justru pengetahuannya yang terbatas hanya pada satu pokok saja.

2.    Broken Home

Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan, dimana orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah.tidak adanya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya sehingga membuat si anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur, baik itu di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anaknya di masyarakat.

Kondisi inilah yang menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak. Si anak jenuh akan kondisi atau situasi yang tegang ketika mereka berada dirumah. Karna hilangnya keharmonisan dan kekompakan di dalam rumah memacuh sang anak untuk mencari kebahagian dengan cara yang terlarang Broken Home juga menjadi salah satu faktor mahasiswi tersebut berperilaku menyimpang seperti seks bebas sebagai tempat pelarian mereka. Karena kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, sibuknya orangtua akan membuat mereka rapuh, sehingga dia akan mencari tempat yang nyaman, yang mau menerima kekurangannya, perhatian dan kasih sayang.

3.    Jauh dari Orang Tua

Kost merupakan pilihan yang mau tidak mahu harus dipilih seseorang ketika menimbah ilmu di universitas yang berada jauh dari kotanya atau daerahnya. Jauh dari orang tua juga merupakan faktor pendorong sehingga mereka bebas melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Dalam hal ini kegiatan dan perilaku mereka tidak terkontrol oleh orang tua mereka dan orang tua mereka pun tidak tahu menahu apa yang dilakukan anaknya diluar sana atau dengan siapa saja anaknya bergaul 

4.    Faktor lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter. Bila berada pada lingkungan yang baik maka akan dapat memberikan pengaruh yang baik pula bagi perkembangan karakter, dan begitu juga sebaliknya lingkungan yang tidak baik juga dapat memberikan pengaruh yang tidak baik bagi perkembangan karakter. Dalam konteks keperawanan, masyarakat selalu keliru menaggapinya misalnya dalam menilai dan memperlakukan keperawanan dalam bentuk selaput dara dan bobot nilainya. 

Dizaman sekarang beranjak dari Perempuan remaja dan dewasa yang belum menikah menjadi sebuah fenomena biasa ketika perempuan mendahulukan sebuah nilai tukar berbanding nilai guna keperawanan. Hal ini disebabkan oleh perubahan dalam sebuah konstruksi sosial yang berada dalam suatu masyarakat. Dalam konstruksi sosial,seorang perempuan yang perawan atau yang tidak perawan terlibat dalam eksternalisasi yang dihasilkan oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan perempuan tersebut mendapat penilaian khusus oleh masyarakat yang mempengaruhi perempuan tersebut. Nilai guna keperawanan secara anotomi adalah sebagai jaringan atau lipatan membran yang dalam perkembangannya bisa menghambat sebagian atau keseluruhan jalan masuk ke vagina. Pertanyaan yang lebih bisa digeneralisasi kemudian menjadi, siapa memiliki kekuasaan untuk mengontrol definisi-definisi tentang nilai? Dengan menggunakan contoh mengenai keperawanan, penulis melihat bahwa imbalan-imbalan berkaitan dengan keperawanan. 

Dalam konstruksi sosial, terdapat harga-harga tertentu yang dibayar berdasarkan nilai-nilai pasar bagi perawan dan tidak perawan. Beberapa perempuan disisihkan atau didiskriminasi atas dasar tidak perawan “tidak cocok” dengan sebuah sekolah, suatu profesi dan selera seorang laki-laki. Perempuan yang perawan boleh jadi berusaha serta mempertahankan nilai tukar. Di sini, nilai guna dan nilai tukar terintegrasi, dan yang sangat kuat adalah mereka yang menentukan, kapan nilai tukar akan dialokasikan dan untuk beberapa lama.

Komentar