Langsung ke konten utama

PEREMPUAN SEBAGAI SIMBOL KEPEMIMPINAN DALAM KEBANGSAAN

PEREMPUAN SEBAGAI SIMBOL KEPEMIMPINAN DALAM KEBANGSAAN

Oleh :
Muhammad Khadafi

Seorang pemimpin dalam mengelola organisasi tak lepas dari masalah sumberdaya manusia karena sampai saat ini sumberdaya manusia menjadi pusat perhatian dan tumpuan bagi organisasi atau perusahaan untuk bertahan dalam persaingan yang semakin ketat di era globalisasi ini. Tuntutan yang semakin ketat tersebut membuat manajemen sumberdaya manusia harus dikelola dengan baik dengan memperhatikan segala kebutuhan demi tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Faturahman, 2018b). Oleh karena itu kepemimpinan diyakini sebagai faktor penting yang mempengaruhi prestasi bawahan. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan proses kepemimpinan adalah perilaku pemimpin yang bersangkutan atau gaya pemimpin.

Gaya kepemimpinan juga diartikan sebagai cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi (Mathis dan Jackson,2003; definisi lain dari Pasolang, 2010:5; Ranoh, 2011:72). Definisi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok (Pasolang, 2010:6). Kepemimpinan tidak bisa terlepas dari individu yang berperan sebagai pemimpin. Banyak yang menghubungkan antara kemampuan individu dalam memimpin dengan aspek biologis yaitu berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal tersebut kemudian mengakibatkan timbulnya istilah ketimpangan gender dengan menempatkan perempuan pada kondisi yang tidak menguntungkan, walaupun perempuan adalah sumber daya manusia yang bahkan di seluruh dunia jumlahnya jauh lebih besar dari laki-laki. Di era modern saat ini, persoalan gender sudah bukan merupakan faktor pembeda dominan.

Fenomena gaya kepemimpinan di Indonesia menjadi topik yang menarik dan berpengaruh besar dalam kehidupan politik dan bernegara. Jika di sektor bisnis, gaya kepemimpinan mempengaruhi jalannya organisasi dan kelangsungan hidup organisasi dalam pencapaian misi, visi dan tujuan suatu organisasi. Maka dari itu, tantangan dalam mengembangkan strategi organisasi utamanya terletak pada organisasi di satu sisi dan tergantung pada kepemimpinan (Porter, Crampon, Smith;2004). Pimpinan mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan organisasi. Kepemimpinan merupakan suatu unsur kunci dalam keefektifan organisasi, karena kualitas suatu organisasi dapat dilihat dari kerja sama antara anggota organisasi dan pemimpinnya. Tak hanya itu, pemimpin juga menciptakan kondisi transformasional (Faturahman, 2018b) artinya pemimpin memotivasi para bawahan untuk berbuat lebih baik sesuai harapan dari bawahan dengan meningkatkan nilai tugas dengan mendorong bawahannya mengorbankan diri sendiri demi kepentingan organisasi diikuti dengan peningkatan tingkat kebutuhan bawahan yang lebih baik. Lazimnya, organisasi dipimpin oleh seorang pria, tetapi perkembangan zaman menuntut wanita untuk mampu memimpin sebuah organisasi. Banyak sosok wanita hebat yangmenjadi pemimpin, baik sebagai presiden, direktur perusahaan, pemimpin organisasi dan sebagai pemimpin lainnya.

Pria dan wanita memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Pria lebih menggunakan norma keadilan sementara wanita menggunakan norma persamaan. Pria juga menggunakan strategi yang lebih luas dan lebih positif, perbedaan manajemen tidak akan terlihat jika wanita memiliki rasa percaya diri yang tinggi (Fitriani, 2015). RA Kartini merupakan teladan penting bagi perempuan Indonesia. Beliau adalah tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan seperti hak untuk belajar disekolah dan hak untuk memimpin sebuah organisasi. Namun apakah kepemimpinan perempuan lebih efektif dan memiliki performa yang lebih baik daripada kepemimpinan pria? Oleh karena itu pembahasan mengenai gaya kepemimpinan perempuan dibahas lebih lanjut dalam penulisan ini untuk menguraikan seberapa jauh kapasitas perempuan untuk menjadi pemimpin.

A.      Asal Kejadian Perempuan.

Dalam perspektif ajaran Islam, antara kaum laki-laki dan kaum perempuan memiliki kodrat dan tabiat bawaan sejak lahir yang berbeda baik secara phisik maupun psychis. Tidak ada seorangpun yang dapat membantah realitas yang demikian. Dengan perbedaan yang demikian tidak berarti menurut Islam kaum laki-laki lebih unggul atau lebih rendah dari kaum perempuian, melainkan hanya menunjukkan adanya bentuk phisik dan psychis atau karakter yang berbeda. Makna filosofis yang terkandung di balik penciptaan yang demikian adalah, bahwa ant

Allah swt. telah menyatakan dalam firman-Nya : َ

 Artinya: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”.(QS Ali Imran : 195) Mengomentari ayat tersebut, Tim Penerjemah Alquran Departemen Agama menyatakan bahwa sebagimana kaum laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, demikian juga halnya kaum perempuan juga berasal dari laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan dari yang lainnya tentang penilaian iman dan amalnya. Terdapat hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Menurut Quraish Shihara keduanya harus dapat bekerjasama dan berperan sesuai dengan kodrat dan tabiatnya masingmasing.ab, hadis tersebut harus dipahami sebagai adanya kodrat dan tabiat yang spesifik pada diri perempuan, agar kita bersikap ekstra hati-hati terhadapnya, bukan untuk merendahkannya.

B.      Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepadapengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinanadalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman, ahlipengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari perannyamemberikan pengajaran / instruksi.Ciri-ciri Seorang PemimpinKebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifatatau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi,dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon,Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakuibahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapaitujuan yang mereka inginkan. Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:

1.      Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usahauntuk memperbaikinya.

2.      Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.

3.      Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalammenyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormatkepada pemimpinnya.

4.      Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasikepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.

5.      Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuandalam jabatannya.

6.      Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasatanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.

7.      Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat ” team work “, kreatif, percaya diri, inovatif danmobilitas.Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan :

a)      Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segalakeputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dantanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanyamelaksanakan tugas yang telah diberikan. 

b)     Gaya Kepemimpinan Demokratis / DemocraticGaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luaskepada para bawahan.

C.      Tinjauan Kepemimpinan Perempuan

Perempuan merupakan bagian kesatuan masyarakat yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Penciptaan laki-laki dan perempuan oleh Tuhan Yang Maha Esa merupakan takdir dan mempunyai kedudukan, derajat, hak serta kewajiban yang sama. Djasmoredjo dalam Fitriani (2015) menjelaskan laki-laki  berbeda hanya terbatas pada perbedaan biologis. Perempuan identik sebagai sosok yang lembut, cenderung mengalah, lebih lemah, kurang aktif dan berkeinginan untuk mengasuh. Sebaliknya, laki-laki sering ditampilkan sebagai seseorang yang besar, dominan, lebih kuat, lebih aktif, otonomi serta agresi. Dalam filosofi jawa wanita memiliki arti wani ditata atau berani diatur.

Perkembangan zaman terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup yang layak membuat perempuan turut ambil bagian. Slogan ini memiliki arti perempuan memiliki peran penting di dalam rumah gadang. Termasuk juga mengelola keuangan rumah tangga atau peran yang lebih luas dalam lingkungan. Pekerjaan semula yang dikerjakan perempuan hanya lingkungan rumah tangga kini bergeser sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Filsafat adat kini tak lagi relevan. Perempuan seharusnya mendapat perlindungan ekonomi dari suami dan mendapat tempat yang lebih tinggi dalam konteks adat minangkabau. Adat tersebut memang telah memposisikan derajat perempuan yang lebih tinggi namun sejalan dengan bergesernya peran perempuan ke dimensi yang lebih luas apalagi di era reformasi di Indonesia telah memberikan harapan yang besar bagi kaum perempuan. Kebangkitan kaum perempuan dalam era globalisasi telah membawa perubahan dalam perkembangan pembangunan bukan lagi sebagai istri atau ibu semata-mata, tetapi telah terorientasi pada kualitas eksistensinya selaku manusia.

Konsep gender adalah konsep yang membedakan kaum laki-laki dan kaum perempuan. Fakih (1996) menyebut bahwa terdapat kecenderungan pertukaran sifat antara kaum laki-laki dan perempuan. Misalnya perempuan dikenal sebagai mahkluk lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri tersebut bisa dipertukarkan karena ada juga laki-laki yang mempunyai sifat emosioanal, lemah lembut, keibuan dan perempuan memiliki sifat kuat, rasional serta perkasa. Sehingga konsep gender ini menggambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara sosial budaya menurut tempat dan waktu dengan mengacu pada unsur emosional dan kejiwaan. Perbedaan yang telah disebutkan menimbulkan ketidakadilan pada perempuan berupa penandaan (stereotype) diantaranya anggapan bahwa perempuan tidak tepat menjadi pemimpin atau manajer. Hal ini mengakibatkan masih adanya diskriminasi dalam masyarakat terhadap perempuan walaupun menurut undang-undang Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Kesetaraaan Gender perempuan telah memperoleh hak yang sama dengan laki-laki di berbagai bidang.

D.      Peran Perempuan dalam Analisis Gender

Ada dua perbedaan kehidupan sosial yang nyata bagi laki-laki dan perempuan, lingkungan masyarakat sebagai tempat pertama bagi laki-laki, dan perempuanlah yang akrab dengan lingkungan rumah tangga hubungan diantara keduanya adalah tidak langsung. Penafsiran yang diberikan kepada biologis perempuan menyebabkan kerugian mereka pada semua tingkat masyarakat bukan keadaan biologis mereka sendiri. Perempuan di manapun umumnya kurang dikenal dan kurang berwenang dalam adat. Penafsiran inilah yang mengikat mereka untuk hanya mengasuh anak-anak dan tetap dalam lingkungan rumah tangga. Di Indonesia, pencantuman peranan perempuan dalam pembangunan bangsa mulai pada GBHN 1978 sampai sekarang, yang mengamanatkan bahwa perempuan mempunyai hak kewajiban serta kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Namun sampai saat ini partisipasi perempuan belum berjalan sesuai dengan potensi yang dimilikinya, bahkan cenderung menempati posisi terbelakang (Tjokroaminoto, 1996 : 29). Adapun yang menyebabkan perempuan kurang berpartisipasi dalam arena politik, yaitu :1) Secara kultural dan diperkuat oleh interpretasi agama perempuan berada di posisi subordinat terhadap laki-laki, masih dianggap sebagai mahluk yang berada di bawah Peran Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender 272 kepemimpinan laki-laki, sehingga dalam pengambilan keputusan, berkaitan dengan kehidupan sosial, politik ekonomi maupun kehidupan pribadi itu sendiri umumnya perempuan tidak memiliki hak suara apalagi hak untuk mengambil dan menjalankan keputusan; 2) Akses perempuan terhadap ekonomi dan informasi sangat kecil. Ini mengakibatkan kesulitan bagi perempuan untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam setiap rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan; 3) Sejak dihancurkannya gerakan perempuan di masa orde baru, kemudian segera disusul dengan doktrin pencitraan perempuan yang dipaksakan. 4) Rasa percaya diri yang kurang. (Tjokroaminoto, 1996 : 31).

Dengan ketat melalui berbagai jalur legislatif, politik maupun budaya, perkembangan gerakan perempuan diarahkan menuju satu titik yaitu domestikasi perempuan, dengan meletakkan perempuan di dalam rumah tangga, sebagai isteri pendamping suami dan ibu dari anak-anaknya. Kebijakan ini menjadikan perempuan bersikap apolitis atau rendah kesadaran politiknya, dalam makalah, (Dian, 2002 :25). Dalam hal ini, laki-laki akan lebih baik untuk mampu menjaga jarak dari lingkungan kehidupan rumah tangga sebagai akibatnya mereka tidak memerlukan komitmen pribadi terhadap orang lain sebagaimana yang diperlukan oleh ibu-ibu atau perempuan. Laki-laki lebih dihubungkan dengan wewenang abstrak dan dengan kehidupan politik dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Keterpisahan laki-laki dari lingkungan rumah tangga membuat mereka lebih cocok dalam keterlibatan ritual keagamaan. Peran Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender 273 kehidupan perempuan. Perempuan memiliki kekuatan yang lebih sedikit dibanding laki-laki dalam masyarakat. Ketidakseimbangan antara jenis kelamin adalah lebih besar dalam masyarakat dibanding faktor lain, dan perempuan bisa menjadi lebih dekat persamaan jika laki-laki lebih terlibat dalam kehidupan rumah tangga.

Menurut (Tjokroaminoto, 1996 : 59) penyebab rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan dan cenderung menempati posisi terbelakang adalah sebagai berikut : 1) Adanya dikotomi maskulin/feminin peranan manusia sebagai akibat dari determinasi biologis seringkali mengakibatkan proses marginalisasi perempuan; 2) Adanya dikotomi peran publik/peran domestik yang berakar dari sindroma bahwa “peran perempuan adalah di rumah” pada gilirannya melestarikan pembagian antara fungsi produktif dan fungsi reproduktif antara laki-laki dan perempuan; 3) Adanya konsep “beban kerja ganda” yang melestarikan wawasan bahwa tugas perempuan terutama adalah di rumah sebagai ibu rumah tangga, cenderung mengalami proses aktualisasi potensi perempuan secara utuh; 4) Adanya sindroma subordinasi dan peran marginal perempuan telah melestarikan wawasan bahwa peran dan fungsi perempuan dalam masyarakat adalah bersifat sekunder.

Selanjutnya masih kuatnya pandangan-pandangan bahwa perempuan lebih cocok dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dibanding laki-laki, atau pandangan bahwa perempuan lebih menggunakan perasaannya dari pada rasional, sehingga perempuan tidak cocok dengan bidang-bidang pekerjaan yang keras dan rasional termasuk bidang politik yang dianggap hanya cocok dengan laki-laki. Ini merupakan gambaran mengenai adanya diskriminasi klasik terhadap perempuan (Rasdiayanah, 1999 : 41).

Peran Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender 274 Akar struktural historis kedudukan dan status perempuan tersebut telah mendapat perhatian serius baik secara global melalui Kongres Perempuan Sedunia maupun di tingkat Nasional seperti tercantum dalam GBHN 1993 yaitu bahwa program peningkatan kedudukan dan peran perempuan dalam PJP II diarahkan pada sasaran umum yaitu meningkatkan kualitas perempuan dan terciptanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi perempuan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan peranannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peningkatan peran dan kedudukan perempuan sasarannya ialah untuk meningkatkan taraf pendidikan perempuan, meningkatkan kualitas sumber daya perempuan dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, meningkatkan derajat kesehatan perempuan dan keluarganya, meningkatkan peran ganda perempuan dalam pembinaan keluarga dan peran sertanya yang aktif di masyarakat secara serasi dan seim.bang dalam mempertinggi harkat dan martabat perempuan. Kebijaksanaan dan strategi yang diterapkan dalam pelaksanaan pembangunan tidak selalu memiliki dampak, manfaat dan akibat yang sama terhadap laki-laki dan perempuan; pembangunan tidak selamanya bersifat gender netral. Pada umumnya laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda dalam masyarakat; laki-laki dan perempuan memiliki akses dan kontrol yang tidak sama terhadap berbagai sumber daya dan akibat dari berbagai kebijaksanaan dan strategi pembangunan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap perempuan (Pandu, 1996 : 12)

Komentar