oleh
Arwini Puspita Sari
Berbicara
masalah perempuan senantiasa menimbulkan diskusi yang cukup hangat dan hampir
tidak berkesudahan, karena perempuan dalam cita,citra,cinta dan cerita selalu
mengandung dan mengundang kontrofersi. Perempuan merupakan permata kehidupan,
Nabi Muhammad menilai perempuan sebagai tiang (kehidupan) negara. Menjadi
perempuan adalah sebuah kebanggaan. Perempuan merupakan ibu kehidupan. Dari
rahim perempuan kehidupan juga dilahirkan, kehidupan di perjuangkan dan
kehidupan mendapatkan hakekat dan martabat.
Di
tengah gejolak zaman yang penuh keganjilan dan kemunafikan saat ini, perempuan
harus mampu menempatkan dirinya sebagai nafas kehidupan yang bisa meniupkan
kedamaian, ketentraman, dan keindahan. Ini bukan berarti hanya cukup dengan
tampil cantik dan mempesona secara fisik. Dalam buku Psikologi Perempuan karya Dr. Eti Nurhayati menjelaskan tentang
tanggung jawab perempuan dimana
perempuan harus tampil dihadapan publik untuk menyuarakan gerakan kehidupan
yang memihak kaum tertindas, menggugat kebiadaban, dan melanjutkan gerakan
kemanusiaan yang terus membela rasa , mengedepankan keadilan,cinta dan
kesetaraan.
Tetapi
realitas yang terjadi sekarang banyak perempuan yang tidak tau akan hakekat dan
tanggung jawabnya sebagai perempuan.
kebanyakan perempuan zaman sekarang sibuk mempercantik diri tanpa mengasah ilmu dan
akhlaknya, menghabiskan uang orang tua dengan gaya hidup yang tinggi dengan mengikuti
trend yang sekarang, bermain Tik Tok dengan menampakkan lekuk tubuhnya, pacaran
yang melewati batas dan bahkan banyak sekali perempuan yang hamil tanpa ikatan
pernikahan. Ini merupakan sebuah kemunduran berperilaku yang harus di
perhatikan lebih dalam.
Di
dalam buku aku lupa bahwa aku perempuan
karya ihsan abdul quddus membahas bagaimana lingkungan hidup, orang-orang
disekitarnya mempengaruhi pemikiran perempuan, dimana perempuan yang memilih
untuk tinggal di lingkungan yang mendorongnya untuk mencapai cita-cita dan
ambisinya akan lebih mengerti bagaimana perempuan yang memahami perempuan itu
sendiri. sebaliknya ketika perempuan
yang memilih untuk tinggal di lingkungan yang sebaliknya maka pola
pemikirannyapun akan mengikuti lingkungan disekitarnya.
Korps
Hmi-wati yang di sebut Kohati yang
merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam yang di dalam Podoman Dasar Kohati
memiliki tujuan terbinanya Muslimah (HMI-Wati) yang berkualitas gila cita.
Kader-kader Hmi dididik dengan baik agar ia mempunyai wawasan keperempuanan
secara khusus, dan wawasan ke-HMI-an secara umum, karena secara peran kohati memiliki
peran sebagai pembina dan pendidikan dalam
menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Dalam hal
ini sudah jelas bahwa ketika perempuan memilih masuk dalam organisasi Himpunan
Mahasiswa Islam dan memahami peran dan tanggung jawab perempuan
itu sendiri merupakan pilihan yang sangat tepat. Hmi-wati harus mampu
mengimplementasikan nilai-nilai dasar perjuangan dalam setiap pikiran dan
tindakannya untuk dapat berada dalam khittah keislaman dan keindonesiaan.
Sebaliknya
ketika HMI-wati tidak mampu
mengimpelmentasikan nilai-nilai dasar perjungan dalam diri sendiri maka yakin saja Hmi-wati
akan mudah di eksploitasi oleh lingkungan dan bahkan dari lingkungan HMI itu
sendiri. mengapa saya katakan demikian karena realitas yang sekarang terjadi
banyak senior-senior kohawan yang menjadi penghambat berprosesnya kohati dalam
lingkup HMI. Dengan membangun rasa yang tidak wajar sehingga bisa meruntuhkan nilai-nilai dasar perjuangan
HMI-wati.
Jadi
dapat saya simpulkan ruang aman untuk perempuan dan kohati akan selalu ada
ketika perempuan itu mampu memahami dan mengimplementasikan rasa
tanggung jawab sebagai perempuan dan kohati yang mampu memahami dan
mengimplementasikan Nilai-Nilai Dasar perjuangan.

Komentar