Langsung ke konten utama

PERGESERAN NILAI-NILAI BUDAYA BISSU DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DI KABUPATEN BONE

 

OLEH :
SUPRIADI

Budaya atau kebudayaan merupakan sebuah tradisi yang dijalani masyarakat di suatu daerah yang masih kental pengaruh adat istiadatnya dan masih dijalani sampai saat ini yang mengalami perkembangan dan diwariskan dari generasi ke generasi serta terbentuk dari banyak unsur termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Menurut Selo dan Soelaeman dalam Bahar (2017:9) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat. Jadi secara umum kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks dan mencakup pengetahuan. Membahas tentang budaya dan kebudayaan di Indonesia tepatnya di provinsi Sulawesi Selatan dikenal dengan keberagaman budaya yang sudah tentu berakar dari keberagaman nilai-nilai yang ada dalam masyarakat hukum adatnya. Keberagaman nilai dalam masyarakat hukum adat di Sulawesi Selatan merupakan warisan nenek moyang yang mempunyai kekhasan sendiri dibanding dengan kebudayan yang dimiliki oleh daerah lain karena sejatinya setiap daerah memiliki kebudayaan dan kekhasan masing-masing serta memiliki potensi untuk didayagunakan dalam menunjang kehidupan bersama masyarakat. Salah satu kebudayaan yang ada di Sulawesi Selatan adalah kebudayaan yang ada di Kabupaten Bone budaya Bissu dalam masyarakat di Kabupaten Bone yang masih memegang teguh tradisi dan peran sebagai pemelihara dan pelestari nilai-nilai budaya bugis klasik dan digambarkan sebagai manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan supranatural.

Sejak ratusan tahun lalu, Suku Bugis yang mendiami Jazirah Sulawesi Selatan mengenal istilah bissuBissu adalah sebutan bagi pemimpin ritual agama Bugis kuno, sebelum pengaruh Islam masuk. Bissu, berasal dari kata bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti bersih. Mereka disebut bissu karena tidak “berdarah”, ”suci (tidak kotor)”, dan “tidak haid” bagi yang perempuan. Ada pula yang menyatakan bahwa kata bissu berasal dari kata Bhiksu atau Pendeta Buddha. (Pelras, 2006 : 68).

Berdasarkan Kitab La Galigo, kitab rakyat Bugis kuno, manusia tidak dapat berhubungan dengan penciptanya. Keadaan ini membuat lara sang pencipta, sehingga ia pun menurunkan manusia tanpa kelamin yang jelas, untuk memimpin upacara adat keagamaan. Oleh karena tanpa kelamin yang jelas, manusia ciptaan terakhirnya ini kerap disebut waria (Trianto, 2003 : 1).

Orang Bugis mengenalnya sebagai bissu. Pada masa pra Islam Bissu merupakan golongan yang sangat penting dan sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat Bugis. Di pundak bissu inilah semua upacara keagamaan dibebankan, untuk dilaksanakan demi memuji sang pencipta. Upacara adat keagamaan Mat Temu Taung (upacara syukuran diakhir tahun)  merupakan salah satu upacara yang mengedepankan peran bissu. Acara ini harus dipimpin oleh bissu. Upacara tradisional di Sulawesi Selatan ini bermakna mencari keselamatan dan perlindungan dari sang pencipta (Trianto, 2003 : 1).

Masa kerajaan pra-Islam di tanah Bone (1623 – 1605 M) adalah masa kejayaan para bissu. Kaum transvestites Bugis ini memegang peranan yang begitu penting dalam kerajaan (addatuang), sehingga nyaris tidak ada kegiatan upacara ritual tanpa kehadiran bissu sebagai pelaksana sekaligus pemimpin prosesi upacara. Pada saat tersebut, setiap ranreng atau semacam wilayah adat memiliki komunitas bissu. Di Kerajaan Segeri dan Kerajaan Bone dikenal komunitas bissu dengan sebutan Bissu PatappuloE (40 orang bissu). Pada setiap upacara ritual, ke-40 bissu itu harus hadir ( Kompas,  Juli 2005).

Sejak tahun 1990 sampai sekarang, komunitas bissu masih dapat di jumpai dan kelihatan masih tetap mempertahankan nilai-nilai luhur budayanya.Eksisnya nilai budaya yang diimplementasikan dalam tradisi, baik yang menyangkut aspek normatif maupun praktek ritual, tercermin pada komunitas bissu yang ada di Sulawesi Selatan seperti di daerah Luwu, Segeri, Bone, Wajo, dan Soppeng yang dalam kenyataannya hingga kini masih berpegang teguh pada warisan budaya leluhurnya walaupun jumlah dan kualitasnya pun semakin menyusut dari hari ke hari (Alam Azis, 2007 : 2).

Hal ini disebabkan karena hubungan antargenerasi dari komunitas Bissu itu sendiri yang semakin memprihatinkan serta tidak adanya kemudian perhatian yang lebih dari lembaga adat untuk kemudian lebih memperhatikan nasib mereka. Bissu yang masih tersisa sekarang ini adalah sebagian kecil yang masih mewarisi tradisi Bugis klasik.

Komunitas bissu yang ada sekarang ini  semakin berkurang dan berada dalam ambang kepunahan. Dikatakan ada karena sesekali komunitasnya masih menghendaki dan memandang perlu untuk mengedepakannya bagi kepentingan yang bertalian dengan upacara. Dapat menjadi tiada ketika masyarakat yang semula menopang keberadaannya kemudian meninggalkannya karena berbagai sebab. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa bissu saat ini hanya sebagai perhiasan saja, dalam arti keberadaannya kini masih dirasakan kehadirannya namun dianggap tidak ada lagi.

Berbagai faktor eksternal dan faktror internal yang menjadikannya demikian. Faktor eksternal antara lain adalah pergseran pemahaman tentang keagamaan dan perubahan sistem pemerintahan dari sistem kerajaan ke negara kesatuan yang bermuara pada melemahnya lembaga adat dan hak tanah adat. Sementara faktor internal komunitas bissu adalah bagaimana bissu harus beradaptasi jaman yang penuh perubahan, dan regenerasi kepemimpinan serta keanggotaan baru (Lathief, 2007 : 3).

Pada masa Kerajaan Bone , bissu menempati posisi terhormat di dalam masyarakat Bugis sebagai penasihat spiritual kerajaan, seorang bissu bukanlah orang sembarangan. Menjadi bissu dipercaya merupakan anugerah dari dewata. Tidak semua orang, bahkan jenis calabai, bisa menjadi bissu atas kehendak sendiri. Walaupun sebahagian besar bissu pada mulanya memiliki kecenderungan sebagai calabai.

Keberadaan bissu dalam sejarah manusia Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Untuk menjadi seorang bissu harus melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Walaupun bissu ini adalah lelaki yang memiliki figur feminin, namun tidak boleh identik dengan perempuan.

Runtuhnya Kerajaan Bone di tanah Sulawesi pada masa pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri (1895 – 1905 M), berakibat buruk bagi kehidupan kaum bissu. Kehidupan mereka didalam istana kerajaan terpaksa ditinggalkan dan kembali hidup berbaur di tengah masyarakat. Dalam kehidupan kesehariannya, para bissu ini seolah menarik diri. Bahkan mereka cenderung menyembunyikan identitasnya sebagai bissu. Hal ini kemudian memuncak setelah agama islam mulai masuk dan dianut orang Bugis (Trianto, 2003 : 2)

Bertolak dari kenyataan inilah eksistensi bissu cenderung fenomenal mengingat keberadaannya yang kontroversial dalam masyarakat Bugis modern yang Islami. Bissu juga dianggap menyimpang dari agama karena kecenderungannya menganggap arajang dan mustika arajang memiliki kekuatan gaib dari leluhur. Oleh anggota DI/TII dibawah pimpinan Kahar Muzakkar.

Kahar Muzakkar menganggap kegiatan para bissu ini adalah menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan feodalisme. Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan di mana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa disebut vazal. Para vazal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para vazal pada gilirannya ini juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri yang memberi mereka upeti. Dengan begitu muncul struktur hirarkhi berbentuk piramida.

Namun beberapa tahun belakangan, para bissu mulai mendapatkan keberanian untuk menunjukkan identitasnya. Bahkan kembali melakukan berbagai ritual keagamaan. Kembalinya fungsi bissu sebagai bagian dari acara ritual Bugis, sesungguhnya melalui pengorbanan yang panjang. Bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasratnya. Kini para bissu terpaksa bekerja sendiri untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini disebabkan tidak adanya lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung arajang (sawah kerajaan) yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun seperti pada masa kerajaan. Mereka menggantungkan hidup pada panggilan orang-orang yang menggelar upacara adat. Sebagian besar di antara mereka menjadi perias pengantin dan penyedia perlengkapan pesta-pesta perkawinan  untuk bisa tetap bertahan dengan kondisi kehidupan yang sangat berbeda dimana mereka tidak lagi diperhatikan didalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Persoalan yang akan dijawab dalam penelitina ini adalah, Bagaimana keberadaan komunitas bissu di Kabupaten Bone pada masa kerajaan? Mengapa komunitas bissu di Kabupaten Bone dikejar dan dibunuh serta dampak apa saja yang ditimbulkan? Bagaimana status bissu pada saat sekarang ini dengan agama Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Bone.


Keberadaan bissu di Bone pada masa kerajaan 

Keberadaan Bissu dalam sejarah masyarakat Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Dalam tradisi adat dan budaya Sulawesi Selatan yang berakar kepada kerajaan Luwu, calabai yang bertransformasi menjadi bissu, sesungguhnya mendapat tempat terhormat. Diriwayatkan dalam Epos Galigo atau naskah-naskah Bugis kuno, Raja Luwu diturunkan dari langit bersama Latimojong dan Lae Lae, yang merupakan bissu pertama (Intisari, 2007). Berawal dari sinilah Bissu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan termasuk Bone. \Sebelum kelahiran Kerajaan Bone, keadaan pada waktu itu berada dalam kekacauan yang disebabkan oleh tidak adanya lagi hukum yang dapat memberikan tekanan sebagai pegangan serta pedoman hidup bagi masyarakat secara keseluruhan. Hamid, dkk (2007 : 9) mengemukakan bahwa tomanurung datang di tengah kelompok masyarakat yang sedang bermusuhan satu dengan yang lainnya, masyarakat yang chaos tidak ada yang taat pada aturan dan peri kemanusiaan, sianre bale tauwe (orang saling membunuh sesamanya), komunitas jadi kacau, yang kuat memaksa yang lemah, kekerasan terjadi dimana-mana. Kekacauan ini sudah berlangsung lama, sehingga beberapa pemimpin atau Matowa-matowa wanua (desa) menyadari perlunya tokoh penyelamat.

Nilai Budaya To Bissu yang Menggambarkan Hubungan Manusia dengan Tuhan

1.      Beribadah kepada Tuhan Beribadah adalah sebuah bentuk rasa syukur terhadap adanya tuhan sebagai pencipta seluruh apa yang ada di muka bumi. Bentuk ibadah Bissu seperti mendirikan sholat dan menjalankan puasa sama seperti yang dijalani masyarakat pada umumnya

2.      Percaya kepada Penghuni Dunia Atas (Botting Langik) Dalam hal ini Bissu menguasai Basa Torilangi (bahasa langit) yang hanya dimengerti oleh Bissu. Lewat bahasa mistik tersebut, Bissu membacakan mantra dan doa dalam berbagai upacara keagamaan baik bersifat kenegaraan atau kelompok masyarakat dan keluarga. Upacara-upacara adat yang digelar Bissu biasanya berkaitan dengan penetapan hari baik untuk mengadakan acara penting seperti waktu untuk mulai menanam padi (Mappalili), persiapan melakukan perjalanan haji (Menre’ tana suci), waktu yang baik untuk membangun rumah (Menre’ Bola), dan waktu melakukan tradisi menurunkan seserahan ke laut (Mappano)

 

Nilai Budaya Bissu yang Menggambarkan Hubungan Manusia dengan Alam

Hubungan manusia dengan alam yaitu bagaimana manusia dapat menjaga keseimbangan alam. Karena masing-masing kebudayaan memiliki persepsi masing-masing mengenai alam itu sendiri. Alam menyediakan berbagai kebutuhan manusia, maka sepatutnya manusia dapat menjaganya. Nilai- nilai budaya To Bissu yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Tradisi waktu untuk mulai menanam padi (Mappalili). Terkhusus pada tradisi Mappalili yakni ritual yang dilakukan jika masyarakat akan menanam padi maka harus meminta izin kepada to Bissu Ammatoa dalam menentukan jadwal kapan masyarakat bisa mulai turun ke sawah apabila sudah ditetapkan kapan masyarakat mulai menanam maka Bissu akan turun pertama kesawah dan menjalankan dakkala nya

Nilai Budaya Bissu yang Menggambarkan Hubungan Manusia dengan Manusia

Pandangan suku Bugis mengenai manusia ialah hanya kata dan perbuatanlah individu itu dapat mewujudkan dirinya sebagai tau (manusia berharkat dan bermartabat). Perbuatan individu tidak dapat dipisahkan dengan individu lainnya, karena dilandasi suatu prinsip pemuliaan harkat dan martabat manusia, yang diungkapkan dalam Suku Bugis yaitu Sipakatau (saling Menjaga), Sipakainge (Saling mengingatkan), Sipakalebbi (Saling memuliakan), Sipammase–mase (Saling Merangkul). Adapun nilai moral dalam suku bugis yang menyangkut nilai- nilai budaya To Bissu yaitu Mappalong Makkunrai (Pekerjaan Perempuan).

Pergeseran nilai budaya bissu di Bone

Peran dan fungsi dari keberadaan komunitas Bissu di Bone pun lama kelamaan semakin tidak mempunyai arti seiring dengan semakin kuatnya pengaruh islam di dalam kerajaan. Hal ini pun kemudian memuncak di tahun 1950 setelah terjadi suatu demonstrasi rakyat di Kota Watampone yang kemudian menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur serta dihapuskannya pemerintahan kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang pemerintahan Republik Indonesia.

Berawal pada tahun 1950 inilah merupakan awal upaya penghancuran seluruh komunitas Bissu baik yang ada di Bone maupun di daerah Sulawesi Selatan lainnya karena istana tidak lagi menjadi pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan orang Bugis. Tidak ada lagi sumber dana tetap untuk biaya upacara dan biaya hidup para Bissu yang tinggal di Bola Arajang.

Seiring dengan bergesernya nilai-nilai lama oleh nilai-nilai yang baru, maka nilai tradisional pun berangsur-angsur terkikis, dan bahkan hilang dalam masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh komunitas Bissu sejak tahun 1611 M hingga sekarang ini. Maka pada tahun 1950 sampai pada tahun 1966 terjadi pembataian dalam tubuh komunitas Bissu yang ada di Kabupaten Bone beserta daerah-daerah di Sulawesi Selatan lainnya.

Kejadian ini dimulai pada masa pergolakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan (1950 – 1965) yang menilai bahwa kepercayaan yang selama ini dilakoni oleh para bissu  tidaklah sesuai dengan ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas masyarakat Kabupaten Bone pada waktu itu. Tentara Islam Indonesia kemudian berusaha keras menghapuskan dan melarang semua yang mereka anggap tidak sesuai dengan ajaran islam.Pasukan Kahar Muzakkar memberantas para bissu karena dianggap penyembah berhala dan tidak sejalan dengan syariat Islam. Bissu dianggap menyimpang dari agama islam karena kecenderungannya selama ini telah menganggap arajang memiliki kekuatan gaib. Oleh karena itu, alat-alat upacara yang sering digunakan ataupun benda-benda arajang yang selama ini dianggap sakral dan memiliki kekuatan gaib oleh para bissu dihancurkan dan dibakar oleh pasukan DI/TII sebagai langkah awal untuk membersihkan kebudayaan dan tradisi lama di masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran islam.

Petaka gempuran kelompok DI/TII juga dirasakan secara langsung oleh Puang Saidi beliau adalah Puang MatowaBissu di Segeri Pangkep sekarang ini. Ia termasuk orang yang diburu untuk dinaturalkan kelelakiannya. Rambut panjangnya dipotong habis. Bahkan, ia pun harus meraih cangkul dan pergi ke sawah (www. majalah.tempointeraktif. com). Tidak ada lagi calabai, atau bissu,  karena Islam hanya mengenal lelaki atau perempuan.

Pasukan DI/TII tidak hanya sampai disitu, mereka terus berlanjut untuk terus memurnikan keislaman dan menghilangkan kemusyirikan dari para bissu. Perlengkapan upacara dari para bissu dilenyapkan dengan cara dibakar atau ditenggelamkan ke laut supaya tidak ada lagi ritual-ritual yang selama ini sering dilaksanakan oleh para bissu terhadap arajang. Banyak bissu dibunuh ataupun dipaksa menjadi pria yang harus bekerja keras agar mereka tidak lagi melaksanakan segala kegiatan-kegiatannya terutama yang menyangkut dengan arajang.

Rumah arajang juga dihancurkan untuk menghentikan aktivitas dan kegiatan mereka yang kesemuanya itu selalu diawali  di rumah arajang sebagai tempat rutin dalam melakukan ritual-ritual bagi arajang. Pada saat itu rumah Arajang dihancurkan berserta isi-isinya. Dulu rumah Arajang masih berada di daerah Bukaka. Setelah kejadian itu rumah Arajang tidak terurus lagi. Rumah itulah yang kemudian dibongkar dan dipindahkan ke jalan La Tenritatta (tempat Bola Soba sekarang ini). Namun tidak semua peralatan Bola Soba saat ini asli karena pada saat dipindahkan sudah banyak kayu-kayu beserta papannya yang sudah rapuh.

Penderitaan para bissu kemudian berlanjut pada masa Orde Baru. Gerakan pembantain besar-besaran itu diberi nama ”Operasi Toba” (operasi taubat) yang lancarkan oleh masyarakat pada masa rezim Orde Baru antara tahun 1965 – 1967. Para bissu dan mereka yang percaya dengan kesaktian dari arajang menjadi tertuduh penganut komunis atau anggota Partai Komunis Indonesia yang merupakan partai terlarang di Indonesia sampai sekarang ini.

Bissu yang tertangkap harus memilih antara mati dibunuh atau memilih masuk agama tertentu secara benar serta harus bersikap sebagai pria normal bukan sebagai waria. Para bissu bersembunyi dan tidak berani menampakkan diri dimasyarakat sebagai seorang bissu. Gerakan pemurnian ajaran Islam atau “Operasi Toba”  (operasi taubat) ini gencar-gencarnya terjadi pada tahun 1966. Para bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya (Lathief,  2007 : 3).

Dampak pergeseran budaya bissu di kabupaten bone

Terjadinya pengejaran dan pembunuhan komunitas bissu di Bone menyebabkan masyarakat tidak lagi mengenal dan merasakan kehadiran bissu ditengah-tengah masyarakat. Bissu yang masih hidup atau lolos dari ”Operasi Toba” pada saat itu hanya dikenal sebagai seorang calabai yang setiap saat mendapat cemohan dari masyarakat karena pandangannya yang mengatakan bahwa nasib mereka akan sial selama 40 hari ketika melihat salah seorang calabai melintas didepan mereka. Sehingga komunitas bissu yang ada menutup diri dari masyarakat mulai dari pasca penumpasan 1967 sampai 1990. Kehidupan dan pergaulan mereka menjadi sangat terbatas. Nasib mereka selama sesudah penumpasan menjadi menderita disamping mereka harus berusaha sendiri untuk menafkahi kehidupannya mereka juga harus senantiasa mendengar cemohan dari masyarakat yang senantiasa memojokkan akan keberadaannya.

Masyarakat Bugis sebagai pemilik tradisi ini sebagian besar berubah menjadi menyudutkan keberadaan komunitas bissu. Berbagai tekanan menjadikan mereka sebagai suatu komunitas yang terasing, walaupun beberapa diantaranya masih dapat bertahan dengan berkompromi dengan perubahan. Komunitas bissu menjadi tercerai berai, jumlah dan kualitasnya semakin menyusut sampai sekarang.

Perubahan zaman membuat status bissu tidak lagi mendapat tempat terhormat dan memberikan keuntungan materi. Bissu tak lebih sebuah warisan budaya, yang menjadi pelengkap bagi kehidupan tradisional masyarakat Bugis. Hal inilah yang membuat sehingga  regenerasi di kalangan bissu yang ada di kabupaten Bone menjadi tersendat dan semakin berkurang tanpa ada regenerasi baru.

Pada tahun 1990 para bissu yang masih tersisa di Bone  mulai kembali mencoba tampil di masyarakat walaupun dalam jumlah  yang sedikit melalui pekan budaya pertama karena pada saat itu Bone diminta menampilkan 40 orang bissu. Dibawah inisiatip Andi Mappasissi Petta Awampone, bissu yang masih tersisa kemudian dikumpulkan. Karena jumlah yang ada tidak lagi mencukupi 40 orang maka dikumpulkanlah waria untuk kemudian mencukupkan menjadi 40 orang supaya bisa tampil pada pekan budaya pertama  dengan status sebagai seorang bissu

Kemudian setelah itu melalui peran Halilintar Latief, pada tahun 1997, dan LSM lokal bernama Latar Nusa memediasi bissu untuk pentas di hadapan publik di Bali. Sejak saat itu, perlahan bissu mulai dikenal kembali dan mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat di Kabupaten Bone walaupun hanya dikenal sebatas suguhan pariwisata bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing melalui antraksi maggiri.

Keinginan komunitas bissu untuk tetap menjaga kebudayaan mereka kemudian menjadi kenyataan setelah era orde baru berakhir di tahun 1998, zaman yang sebelumnya memojokkan keberadaannya dimasyarakat karena dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia.  Sejak saat itu komunitas bissu yang ada di Kabupaten Bone kemudian tidak segan-segan lagi menampilkan diri mereka sebagai seorang bissu dalam masyarakat. Mereka bahkan terus memperjuangkan nasibnya untuk tetap mendapat tempat tersediri di masyarakat dengan kembali aktif mengumpulkan anggota-anggotanya yang masih tersisa.

Usaha dari komunitas  bissu di Bone untuk mencukupkan anggota mereka sebanyak 40 orang mengalami hambatan, hal ini disebabkan sebagai dampak dari penumpasan yang mereka alami sejak tahun 1965. Kehidupan bissu sekarang ini telah mengalami pergeseran peran karena berbagai ritual yang menempatkan bissu jadi penting telah tereduksi oleh zaman. Hubungan antargenerasi di kalangan bissu pun, makin memprihatinkan. Saat ini berbagai ritual yang dahulu melibatkan bissu sudah berbeda dengan tujuan sesungguhnya. Misalnya, tarian penyambutan tamu istimewa sere leluso yang sarat makna dan hanya dilakukan oleh bissu, sekarang sudah dilakonkan dengan leluasa oleh sanggar seni (Aspryanto, 2007)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSTRUK SOSIAL PEREMPUAN ATAS PERAWAN

   KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN OLEH : NISFAH NURJANNAH Bangsa Indonesia saat ini yang berada dalam era globalisasi yang terburuburu untuk mencapai sebuah kemajuan, bangsa Indonesia membutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini. Globalisasi mempercepat penambahan pengetahuan dan peningkatan teknologi, tetapi disisi lain globalisasi akan mudah sekali menjadi masalah di tengah masyarakat Indonesia. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi di Indonesia membawa bangsa ini mengalami pergeseran dalam cara berpikir dan pola kehidupan bermasyarakat. Dalam perubahan sosial yang terjadi ini adalah sebagai konsekuensi dari mozaikmozaik kecil yang dinamakan modernisasi. Fenomena yang sering kali ditayangkan dan disorot saat ini karna faktor kegelisahan atau kebodohan adalah maraknya penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian individu, khususnya dikalangan mahasiswa, salah satunya adalah pergaulan...

IMPLEMENTASI MISSION HMI DALAM MEWUJUDKAN MORALITAS KADER

  Muhammad Reza Putra   2.1 Optimalisasi Mission HMI Sebagai Formulasi Gerakan Perjuangan HMI 2.1.1.       Three Komitmen HMI Tentang    Wawasan Keislaman, Keindonesiaan dan Kemahasiswaan HMI adalah organisasi yang lahir sebagai anak kandung umat dan bangsa Indonesia, tepatnya pada 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 rabiul awal 1366 H, sejarah telah mencatat itu. Sejak kelahirannya komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesian layaknya dua sisi pada satu keping koin mata uang yang tak terpisahkan, di dalam tubuh organisasi Himpunan ini. Perubahan boleh terjadi, di sisi lain HMI harus terus tumbuh dan berkembang dalam semangat ke-Islaman. Jika HMI sebagai tubuh maka jiwanya adalah Islam yang hidup dengan karunia bangsa yang besar. Oleh karena itu konsistensi sikap HMI akan terus digugat baik di eksternal maupun internal dalam mengawal gerak perubahan bersama kepentingan umat dan bangsa. Sebab kehadiran dan keberlangsungan organisasi ini tergan...

Interlerasi Agama dan Politik

Interlerasi Agama dan Politik Oleh : Nashrullah Setiawan 1. Agama dan Politik           Dalam kehidupan kita sehari-hari tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata agama dan politik. Tak terhitung lagi artikel maupun buku buku yang memperbincangkan tentang agama dan politik. Isu ini sering menjadi topik diskusi yang masih mencari titik temu. Bagaimana relasi antara agama dan politik dari masa ke masa. Dalam artikel ini akan saya paparkan sedikit tentang apa itu agama dan politik.          Yang awalnya dalam dunia kesejarahan dari abad ke abad terdapat kutipan bahwa politik dilahirkan oleh agama. Jejaring kekuasaan merupakan misi Rasul Tuhan dengan agama yang dibawa, serta dalam menyebarkan dan mewujudkan dokrinnya. Hingga disimpulkan bahwa agama mesti memiliki kekuasaan politik. Dapat kita tela’ah pada kisah nabi Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang menyebarkan agama melalui kekuasaan politik. Umat pada masa itu sangat mengh...